Di Batavia, Djamaluddin, mahasiswa STOVIA, bertemu dengan Landjumin Datuk Tumenggung.
Pertemuan ini bukan hanya sembarang pertemuan, melainkan awal dari transformasi Djamaluddin menjadi Adinegoro, sosok legendaris dalam jurnalisme Indonesia.
Suatu sore, Djamaluddin, mahasiswa STOVIA yang bersemangat, bertemu Landjumin Datuk Tumenggung di Batavia. Tumenggung, tokoh penting pers dari Sumatera dan pemilik majalah Tjaja Hindia, bukan hanya bertemu biasa, tetapi menjadi awal perubahan bagi Djamaluddin yang kemudian merintis karir jurnalistiknya.
Tumenggung, sosok berpengaruh di Batavia, juga memiliki surat kabar Neraca. Dia terkenal karena hubungannya yang dekat dengan mahasiswa dan penulis muda, terutama mereka dari Sumatera.
Dari pertemuan itu, Djamaluddin, yang kelak dikenal sebagai Adinegoro, memulai perjalanan baru dalam dunia jurnalistik.
Djamaluddin telah lama mengagumi keluasan Tjaja Hindia, sebuah media yang menjadi wadah ekspresi pemikiran dan kritik sosial. Karyanya, yang awalnya dimuat dengan inisial “Dj”, mulai mendapat perhatian.
Namun, ada sesuatu yang lebih dari sekadar pujian yang ingin ditawarkan Tumenggung kepada Djamaluddin.
Dalam suatu diskusi yang hangat, Tumenggung menyarankan Djamaluddin untuk menggunakan nama yang lebih “Jawa” agar tulisannya lebih resonan di kalangan pembaca Jawa, yang merupakan mayoritas di Hindia Belanda saat itu. Dengan penuh pertimbangan, Tumenggung mengusulkan nama “Adi Negoro”.
Usulan ini bukan hanya strategi untuk meningkatkan pembaca, tetapi juga cara untuk menyamarkan identitas asli Djamaluddin sebagai orang Minang, yang pada waktu itu bisa jadi sensitif.
Djamaluddin, yang awalnya ragu, akhirnya menerima saran tersebut. Ia mengadopsi nama Adi Negoro, sebuah nama yang akan menjadi legenda dalam sejarah pers Indonesia.
Adinegoro, sebuah nama yang mulanya dipisah menjadi dua kata, “Adi” dan “Negoro”, lambat laun menyatu menjadi satu kata yang kini dikenal luas.
Transformasi Djamaluddin menjadi Adinegoro tidak hanya mengubah namanya, tetapi juga memperluas pandangannya terhadap dunia. Keputusannya untuk meninggalkan pendidikan kedokteran dan berpindah ke jurnalistik dipengaruhi oleh kecintaannya pada tulisan dan dorongan untuk berkontribusi pada perubahan sosial melalui kata-kata.
Kisah Adinegoro bukan hanya cerita tentang nama. Ini adalah cerita tentang keberanian mengubah arah hidup ketika panggilan hati lebih kuat dari norma yang ada.
Keputusannya untuk berhenti dari STOVIA dan berangkat ke Jerman untuk mempelajari jurnalistik, membawanya pada petualangan yang membuka wawasannya dan memperkaya pengetahuannya dalam geografi, kartografi, dan geopolitik, yang kemudian dia tuangkan dalam bukunya, “Melawat ke Barat”.
Sumber:
Baskoro, L. R. (Ed.). (2023).
Melawat ke Talawi
Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro-Lembaga Pers Dr. Soetomo.











